KAUM MARGINAL: BASIS SEJATI DAN ASALI PERTUMBUHAN CU
Sejak awal kelahirannya, Credit Union tumbuh dari rahim kaum marginal—mereka yang sederhana, miskin, namun pantang menyerah. Dari tangan-tangan yang lelah karena kerja keras sehari-hari, dari wajah yang letih oleh hidup dalam kerentanan, lahirlah kekuatan yang membangun solidaritas dan ketahanan ekonomi. Credit Union tidak pernah lahir dari kemapanan; ia lahir dari keberanian orang kecil yang menolak menyerah pada keadaan.
Realitas Kemiskinan di Sumba
Mari sejenak menoleh pada kondisi nyata di tanah kita sendiri. Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Maret 2023 masih mencatat 1,14 juta jiwa penduduk miskin, atau hampir 20 persen dari total penduduk (Swara Timor, 2023). Pulau Sumba, dengan empat kabupaten di dalamnya, menjadi salah satu kawasan dengan tingkat kemiskinan paling tinggi. Di Sumba Barat Daya, tercatat sekitar 101 ribu orang miskin dengan persentase 27,2 persen (Katadata, 2024; NTT Media Express, 2024). Sumba Timur memiliki lebih dari 73 ribu orang miskin, dengan tingkat kemiskinan 27–28 persen (Victory News, 2023; Sakunar, 2025). Sumba Barat menanggung sekitar 36 ribu jiwa miskin, atau 26–27 persen dari penduduknya (Swara Timor, 2024). Sedangkan di Sumba Tengah, situasinya paling berat: lebih dari 24 ribu jiwa miskin, setara 30–31 persen dari populasi kabupaten itu (Victory News, 2023; Databoks Katadata, 2024).
Jika digabung, ada sekitar 235–240 ribu orang miskin di seluruh Pulau Sumba. Artinya, hampir sepertiga masyarakat Sumba hidup di bawah garis kemiskinan.
Keadaan ini diperparah oleh kondisi alam. Sumba dikenal sebagai pulau semi-kering dengan curah hujan rata-rata hanya 800–1.500 mm per tahun—jauh di bawah wilayah lain di Indonesia (BPS NTT, 2023). Musim hujan singkat, musim kering panjang, tanah berbatu, dan minim irigasi membuat pertanian sulit berkembang. Di sisi lain, ada juga budaya yang justru kerap “memiskinkan”, misalnya kewajiban pesta adat dan belis (mas kawin) yang nilainya sangat tinggi, sehingga banyak keluarga harus berutang besar hanya demi menjaga status sosial. Dengan realitas seperti ini, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa mayoritas orang Sumba hidup dalam kerentanan. Dan merekalah sebenarnya basis sejati pertumbuhan CU.
Paradigma yang Harus Digugat
Selama ini, ada kecenderungan melihat CU sebagai wadah bagi mereka yang sudah “siap”—PNS, pengusaha, petani sukses, atau orang yang sudah punya tabungan. Padahal, kelompok ini hanyalah minoritas. Bila kita hanya mengandalkan mereka, maka pertumbuhan CU akan terbatas, bahkan stagnan.
Sebaliknya, kaum marginal yang sering kita pandang sebelah mata justru adalah mayoritas. Mereka inilah ladang yang subur bagi CU—asal kita mau mengubah cara pandang.

Dari Kekurangan Menjadi Aset
ABCD (Asset Based Community Development) menolong kita melihat dari sudut berbeda. Orang miskin memang tampak serba kekurangan, tetapi tetap memiliki aset: keterampilan sederhana, semangat gotong royong, jaringan keluarga, keuletan bekerja, atau sepetak tanah yang bisa digarap.
Bila aset itu digali dan dikembangkan dalam wadah CU, kaum marginal tidak lagi sekadar penerima belas kasihan, melainkan subjek pembangunan.
Semangat Raiffeisen dan Inspirasi Iman
Sejarah membuktikan hal yang sama. Friedrich Wilhelm Raiffeisen tidak membangun Credit Union untuk bangsawan atau pemilik modal, melainkan untuk orang-orang desa yang nyaris menyerah pada kelaparan. Ia percaya: yang miskin tetap punya martabat dan kekuatan, asal diberi kesempatan untuk bangkit bersama.
Yesus sendiri mengajarkan cara pandang ini. Ia memuji persembahan seorang janda miskin yang hanya memberi dua peser (Luk 21:1–4). Bagi orang lain, itu tak berarti apa-apa. Tetapi Yesus melihatnya sebagai persembahan terbesar. Gereja kemudian menegaskan prinsip option for the poor: keberpihakan pada kaum miskin adalah pilihan iman, bukan pilihan opsional.
Bukti Hidup dari Kaum Marginal
Kita tidak perlu pergi jauh untuk melihat buahnya. Ada ibu rumah tangga sederhana yang membuka usaha kecil berkat simpan pinjam CU. Ada petani kecil yang akhirnya bisa membeli alat kerja sendiri dan lepas dari tengkulak. Ada janda yang berhasil menyekolahkan anak hingga sarjana. Ada anak buruh yang kini bisa kuliah. Bahkan pedagang kaki lima, tukang ojek, dan nelayan tradisional mulai menemukan martabat baru ketika diberdayakan lewat CU.
Semua kisah ini adalah bukti nyata: kaum marginal bukan beban, melainkan fondasi.

Arah Perjuangan Kita
Kaum marginal bukan sekadar angka statistik, bukan sekadar kelompok penerima bantuan. Mereka adalah fondasi, motor, dan jantung pertumbuhan CU. Dari mereka lahir potensi yang tak terlihat, dari mereka lahir inovasi yang membumi, dan dari mereka lahir kekuatan sosial yang nyata.
Mari kita terus meneguhkan prinsip ini dalam setiap kebijakan, produk, dan program: berpihak kepada mereka yang selama ini diremehkan, menggali aset yang tersembunyi, dan membangun bersama dari bawah. Karena hanya dengan cara itu, CULA akan benar-benar bertumbuh—kuat, berakar, dan bermartabat. Kaum marginal adalah basis sejati dan asali pertumbuhan CU; mereka adalah inti dari masa depan yang kita cita-citakan.
Penulis: Gabriel Tanggu
Ketua Pengurus CU Likku Aba
Ketua Pengurus CU Likku Aba



