MEMBANGUN MASA DEPAN CU LIKKU ABA: STRATEGI DAN AKSI UNTUK KAUM MARGINAL
Sejarah telah mengingatkan kita: Credit Union Likku Aba (CULA) lahir bukan dari kemapanan, tetapi dari keberanian orang kecil yang menolak menyerah pada keterbatasan. Kaum marginal—yang sering dipandang sebelah mata—justru adalah rahim sejati pertumbuhan CULA. Kini, tantangan kita adalah bagaimana menjadikan CULA sebagai rumah harapan, sekaligus jembatan masa depan bagi mereka.
Strategi: Meneguhkan Akar, Membuka Jalan
Membangun masa depan CULA berarti meneguhkan kembali misi awal: berpihak pada mereka yang lemah secara ekonomi, tetapi kaya semangat juang. Strateginya bisa dirangkum dalam tiga hal pokok:
- Penguatan Literasi Keuangan. Anggota dari kalangan sederhana perlu didampingi agar paham arti menabung, meminjam dengan bijak, serta mengelola usaha. Pendidikan keuangan bukan sekadar teori, tetapi harus berbasis pengalaman hidup mereka sehari-hari.
- Pengembangan Usaha Mikro. Kaum marginal sering memulai dari hal-hal kecil: kios, ternak ayam, jualan sembako, atau bertani. CULA perlu menghadirkan akses modal yang ringan dan terjangkau, sekaligus pendampingan agar usaha kecil itu tumbuh pelan tapi pasti.
- Pemberdayaan. Komunitas. Kaum marginal tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. CU harus menjadi wadah kebersamaan—membangun jaringan solidaritas, saling menguatkan, dan menciptakan peluang kolektif.
Dengan strategi ini, CULA tidak hanya menjadi lembaga simpan-pinjam, tetapi juga gerakan sosial yang menumbuhkan martabat.

Aksi: Kisah-Kisah yang Menghidupkan Harapan
Strategi tidak akan berarti tanpa aksi nyata. Syukurlah, kita sudah menyaksikan buahnya di tengah-tengah kita. Beberapa kisah ini menjadi saksi bahwa CULA benar-benar bisa mengubah wajah kehidupan kaum marginal.
Pak Andreas Ngongo Bani (53 tahun), warga Kalembu Kutura, Desa Marokota, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, bergabung dengan CULA pada 17 September 2008. Perjalanannya dimulai dari kios kecil sederhana di depan rumah—hanya balai-balai bambu dengan jualan sirih-pinang, sayur, dan kue. Hari ini, ia sudah memiliki toko permanen dua lantai yang menjual berbagai macam barang. Rumahnya pun berubah dari dinding gedek menjadi rumah tembok yang kokoh.
Sofia Ina Kii (58 tahun), tinggal di Kalembu Nga’a Bangga, Desa Weelonda, Kecamatan Kota Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya. Hidupnya pernah begitu pahit: suaminya meninggal ketika anak tertua baru berusia lima tahun. Ia bekerja sebagai karyawati di seminari dengan gaji Rp150.000 per bulan. Sejak menjadi anggota CULA pada 9 Juli 2009, perlahan hidupnya berubah. Dari rumah berdinding tanah, kini ia tinggal di rumah permanen berkeramik. Ia merintis usaha ayam potong dengan penghasilan Rp1.250.000 per bulan. Anak-anaknya pun bisa sekolah dengan baik—sebuah kebanggaan tersendiri bagi seorang janda yang berjuang sendirian.
Pak Viktor Bali (48 tahun), dari Kalembu Maregheta, Desa Buru Deilo, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya, awalnya hanya seorang petani kecil. Sejak menjadi anggota CULA pada 8 Januari 2012, perlahan ia beralih profesi menjadi pengusaha. Kini ia memiliki kendaraan usaha seperti pickup dan dump truck, kios sembako, bahkan toko permanen yang semakin berkembang.
Kisah-kisah ini bukan dongeng. Mereka adalah bukti hidup bahwa dengan akses keuangan yang adil, pendampingan, dan kerja keras, kaum marginal bisa berubah menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Dan tentu masih banyak kisah lain yang belum tercatat—tentang pedagang kecil yang bisa membiayai sekolah anaknya, tentang petani yang tidak lagi terjerat tengkulak, tentang janda yang mampu berdiri tegak membesarkan keluarga.

Menatap ke Depan
Masa depan CULA akan ditentukan oleh keberanian kita untuk tetap berpihak pada mereka yang kecil dan rapuh. Kaum marginal bukan beban, melainkan fondasi. Dari mereka kita belajar tentang kesabaran, kegigihan, dan solidaritas.
Mari kita terus menguatkan CULA sebagai rumah harapan. Bukan hanya tempat menyimpan uang, tetapi tempat menumbuhkan martabat; bukan hanya tempat meminjam modal, tetapi tempat memupuk solidaritas; bukan hanya lembaga keuangan, tetapi gerakan hidup yang lahir dari bawah.
Karena pada akhirnya, membangun CULA bukanlah soal angka semata, tetapi tentang manusia. Tentang Pak Andreas, Bu Sofia, Pak Viktor, dan ribuan orang kecil lain yang sedang menata masa depan dengan tangan mereka sendiri.
Ketua Pengurus CU Likku Aba



