Selamat Datang di Credit Union Likku Aba

OPINI

ToT ABCD DAN PERUBAHAN PARADIGMA TERHADAP KAUM MARGINAL

Share:
ToT ABCD DAN PERUBAHAN PARADIGMA TERHADAP KAUM MARGINAL

Dalam sebuah grup WhatsApp, Bapak Benediktus Ere, Sekretaris Pengawas CU Likku Aba, menulis: “Coba dari dulu kita menyelenggarakan ToT ABCD, maka tentu anggota kita (CULA) saat ini sudah banyak.”

        Pernyataan sederhana ini menyimpan makna yang dalam. ToT ABCD (Training of Trainers – Asset Based Community Development) bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah perubahan paradigma. Selama ini, tidak jarang pengurus, pengawas, manajemen, bahkan pokti, menilai calon anggota dari sisi kekurangan: “Orang ini miskin, tidak punya tabungan, pasti sulit melunasi pinjaman.” Dengan cara pandang seperti itu, kaum marginal sering dianggap tidak cocok menjadi anggota Credit Union.

        Lebih jauh lagi, kita juga cenderung beranggapan bahwa anggota yang “ideal” bagi CU adalah petani sukses, pelaku usaha mapan, pegawai negeri, atau orang-orang berduit. Padahal, mereka sesungguhnya hanya minoritas dalam masyarakat. Jika CULA hanya mengandalkan kelompok ini, maka jumlah anggota tidak akan berkembang pesat. Justru yang menjadi mayoritas adalah orang-orang kecil: petani sederhana, buruh, nelayan, pedagang kaki lima, tukang ojek, janda miskin, ibu rumah tangga, hingga pekerja serabutan. Jika kita terus memandang mereka dari sisi kekurangan, maka kita menutup pintu bagi mayoritas masyarakat yang sebenarnya bisa menjadi kekuatan CULA.

        Di sinilah ToT ABCD membawa angin segar. ABCD mengajarkan kita untuk melakukan asset inquiry, yakni menggali apa yang dimiliki seseorang, bukan apa yang kurang darinya. Aset itu tidak selalu berupa uang. Ia bisa berupa keterampilan, jejaring sosial, budaya gotong royong, sepetak lahan kecil, ketekunan bekerja, bahkan semangat untuk memperbaiki hidup. Dengan cara pandang ini, kaum marginal yang dulu dianggap “beban” justru dipandang sebagai pribadi yang punya potensi untuk tumbuh bersama.

Akar Sejarah: Raiffeisen dan Asset Inquiry

        Semangat ini sejatinya tidak baru. Pendiri Credit Union pertama di dunia, Friedrich Wilhelm Raiffeisen, memulai gerakan CU justru dari asset inquiry terhadap orang miskin di Eropa abad ke-19. Ia yakin bahwa orang kecil memiliki martabat dan potensi yang bisa berkembang bila diberi kesempatan. Dari keyakinan inilah lahir prinsip dasar CU: menolong diri sendiri dengan kekuatan bersama (self-help and mutual help).

        Sejak saat itu, sejarah membuktikan bahwa asset inquiry dan prinsip ABCD mampu mengubah wajah dunia. Banyak kisah lahir dari sana: seorang ibu rumah tangga yang awalnya tak punya penghasilan, kini berhasil membuka usaha kecil; petani sederhana yang dulu bergantung penuh pada tengkulak, kini mampu membeli alat kerjanya sendiri; seorang janda yang tadinya hampir putus asa, bisa menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar sarjana; anak buruh yang semula dianggap mustahil bisa kuliah, akhirnya berhasil menembus bangku perguruan tinggi berkat dukungan Credit Union. Bahkan kaum marginal lainnya—pedagang kaki lima, nelayan, tukang ojek, hingga pekerja lepas—perlahan bangkit dan menemukan kembali martabat mereka.

        Semua perubahan itu dimulai ketika ada keberanian untuk melihat aset dalam kemiskinan, bukan sekadar kekurangan.

Inspirasi Iman: Yesus dan Janda Miskin

        Yesus sendiri memberi teladan dengan cara pandang yang positif terhadap kaum marginal. Injil mencatat kisah seorang janda miskin yang mempersembahkan dua peser di Bait Allah (Lukas 21:1–4). Bagi banyak orang, itu persembahan yang tak berarti. Tetapi Yesus melihat lebih dalam: dua peser itu adalah aset terbesar yang dimiliki sang janda—seluruh nafkahnya. Inilah bentuk asset inquiry yang otentik: menemukan nilai pada yang tampaknya kecil dan remeh.

Ajaran Sosial Gereja: Option for the Poor

        Gereja Katolik meneguhkan semangat ini melalui ajaran sosialnya, yaitu prinsip option for the poor—keberpihakan pada kaum miskin. Kaum marginal dipandang bukan sebagai beban, melainkan sebagai pusat perhatian dan subjek pembangunan. Semangat ini sejalan dengan ABCD: memulai dari apa yang ada, dari aset yang dimiliki kaum miskin, dan mengembangkannya demi kesejahteraan bersama.

Perubahan Paradigma untuk Pertumbuhan CULA

       Dengan ToT ABCD, pengurus, pengawas, manajemen, dan pokti diajak meninggalkan pola pikir lama yang eksklusif, lalu mengadopsi cara pandang baru yang inklusif. Kaum marginal tidak lagi dianggap “tidak cocok” menjadi anggota, melainkan justru menjadi basis pertumbuhan CULA. Hasilnya bukan sekadar bertambahnya jumlah anggota, tetapi juga semakin kuatnya kesadaran bahwa setiap orang punya aset dan martabat yang patut dihargai.

Ajakan untuk Kita Semua

        ToT ABCD bukan hanya pelatihan. Ia adalah gerakan untuk kembali pada semangat awal CU, sejalan dengan teladan Raiffeisen, ajaran Yesus, dan prinsip Gereja. Karena itu, marilah kita—manajemen, pengawas, pengurus, dan pokti—terus memandang positif kaum marginal, terus menyebarkan semangat ABCD, dan terus menjadikan CULA sebagai wadah pertumbuhan yang inklusif.

        Dari kaum marginal yang sering diremehkan, justru akan lahir potensi besar, bila kita berani melihat dengan mata iman dan hati yang terbuka. Dan justru mereka inilah yang merupakan basis sejati dan asali dari pertumbuhan CU.

Author Image

Ketua Pengurus CU Likku Aba

Artikel Terkait: